Fakultas Ilmu Komputer

Alumni FIKOM UMI Torehkan Prestasi: Karina Fitriwulandari Ilham Menjadi Dosen Muda dan Menuju Gelar Doktor di ITS

Share

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia (FIKOM UMI) kembali patut berbangga atas capaian salah satu alumninya, Karina Fitriwulandari Ilham. Dari mahasiswa Program Studi Teknik Informatika yang sempat diliputi keraguan di awal perkuliahan, ia kini menapaki karier sebagai dosen muda sekaligus kandidat doktor yang menekuni bidang keamanan siber.


Karina menempuh pendidikan sarjana di Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Muslim Indonesia. Perjalanannya tidak selalu mulus: ia sempat kesulitan mengikuti sejumlah mata kuliah, nilainya tidak selalu memuaskan, dan sempat mempertanyakan apakah dirinya benar-benar cocok berada di jurusan tersebut. 


Titik balik datang lewat bimbingan dosen Pembimbing Akademiknya, Ibu Poetri Lestari Lokapitasari Belluano, S.Kom., M.T., M.T.A., yang meyakinkannya bahwa setiap mahasiswa memiliki proses belajar yang berbeda. Dari sanalah Karina menemukan bidang keilmuan yang menjadi minatnya, yaitu cyber security, dan berhasil menyelesaikan studi sarjana dalam empat tahun di bawah bimbingan dosen pembimbing skripsi, Bapak Ir. Erick Irawadi Alwi, S.Kom., M.Eng. dan Ibu Ir. Farniwati Fattah, M.T., M.T.A. 


Selepas lulus, ia lolos seleksi Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk melanjutkan pendidikan magister di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan kini tengah menempuh Program Doktor (S3) di kampus yang sama sembari menjabat sebagai dosen tetap Program Studi Informatika Universitas Telkom Kampus Surabaya.


Berikut kisah perjalanan tersebut, sebagaimana dituliskan langsung oleh Karina:

— Kisah Karina Fitriwulandari Ilham

“Saya bukan mahasiswa yang paling pintar. Saya hanyalah mahasiswa biasa yang beruntung dipertemukan dengan dosen-dosen yang tidak pernah berhenti percaya bahwa saya mampu berkembang.”


“Saya bukan mahasiswa yang paling pintar. Saya hanyalah mahasiswa biasa yang beruntung dipertemukan dengan dosen-dosen yang tidak pernah berhenti percaya bahwa saya mampu berkembang.”


Kalimat tersebut selalu mengingatkan saya pada perjalanan selama menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Muslim Indonesia (FIKOM UMI). Jika melihat posisi saya hari ini, mungkin banyak yang mengira perjalanan itu berjalan mulus. Padahal, kenyataannya tidak demikian.


Saat pertama kali menjadi mahasiswa FIKOM UMI, saya sama seperti mahasiswa pada umumnya. Saya datang dengan semangat untuk kuliah, tetapi belum benar-benar memahami dunia informatika. Bahkan, seiring berjalannya waktu, saya mulai merasa kesulitan mengikuti beberapa mata kuliah. Nilai yang saya peroleh tidak selalu memuaskan, beberapa mata kuliah sempat tertinggal, dan saya sering membandingkan kemampuan diri dengan teman-teman yang terlihat lebih cepat memahami materi.


Ada masa ketika saya benar-benar merasa bahwa saya telah salah memilih jurusan. Hampir setiap hari muncul pertanyaan dalam diri saya, “Apakah saya benar-benar cocok di Teknik Informatika?” Pikiran untuk pindah jurusan pun sempat terlintas karena saya merasa tidak cukup mampu untuk melanjutkan.

Namun, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang tepat.


Saya mendapatkan bimbingan dari dosen Pembimbing Akademik, Ibu Poetri Lestari Lokapitasari Belluano, S.Kom., M.T., M.T.A. Beliau tidak hanya membantu saya dalam urusan akademik, tetapi juga memberikan motivasi agar saya tidak menyerah. Dari beliau saya belajar bahwa setiap mahasiswa memiliki proses belajar yang berbeda. Tidak apa-apa jika langkah kita lebih lambat, selama kita tidak berhenti berjalan.


Perlahan saya mulai mengejar mata kuliah yang tertinggal. Saya belajar lebih giat, lebih sering berdiskusi, dan mencoba menikmati proses yang sebelumnya terasa begitu berat. Hingga suatu saat saya menemukan bidang yang benar-benar menarik perhatian saya, yaitu cyber security.


Saat itulah cara pandang saya berubah. Bidang yang awalnya tidak pernah saya bayangkan justru membuat saya semakin mencintai dunia informatika. Saya menyadari bahwa mungkin saya bukan salah jurusan, tetapi saya hanya belum menemukan bidang yang sesuai dengan minat saya. Sejak saat itu, belajar bukan lagi sekadar mengejar nilai, tetapi menjadi proses yang benar-benar saya nikmati.


Memasuki tahap akhir perkuliahan, saya kembali mendapatkan dukungan luar biasa dari dosen pembimbing skripsi, Bapak Ir. Erick Irawadi Alwi, S.Kom., M.Eng. dan Ibu Ir. Farniwati Fattah, M.T., M.T.A. Dengan arahan, kesabaran, dan bimbingan mereka, saya berhasil menyelesaikan studi sarjana dalam waktu empat tahun. Bagi sebagian orang mungkin itu hal yang biasa, tetapi bagi saya, kelulusan tersebut adalah bukti bahwa saya berhasil melewati berbagai keraguan yang pernah saya rasakan di awal perkuliahan.


Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan yang dimulai dengan begitu banyak keraguan justru membuka pintu-pintu kesempatan yang luar biasa. Setelah lulus dari Universitas Muslim Indonesia, saya memperoleh Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk melanjutkan pendidikan magister di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.


Melanjutkan studi di ITS memberikan banyak pengalaman baru. Saya belajar bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya. Pengalaman tersebut juga semakin memperkuat minat saya di bidang keamanan siber dan penelitian.


Hari ini, saya bersyukur masih diberikan kesempatan untuk terus belajar sebagai mahasiswa Program Doktor (S3) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Di saat yang sama, saya juga diberi amanah sebagai dosen tetap Program Studi Informatika Universitas Telkom Kampus Surabaya. Setiap kali berdiri di depan kelas, saya sering teringat pada diri saya sendiri ketika masih menjadi mahasiswa yang penuh keraguan. Karena itu, saya selalu percaya bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi untuk berkembang, meskipun terkadang mereka sendiri belum menyadarinya.


Jika ada satu pelajaran terbesar yang saya peroleh dari perjalanan ini, maka itu adalah bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari mahasiswa yang paling pintar. Saya pernah merasa tertinggal. Saya pernah ingin menyerah. Saya pernah berpikir bahwa saya salah memilih jurusan. Namun, semua itu berubah karena saya memilih untuk tetap bertahan, terus belajar, dan tidak malu meminta bimbingan kepada dosen-dosen yang selalu percaya bahwa saya mampu berkembang.


Kepada adik-adik mahasiswa FIKOM UMI, saya ingin berpesan agar jangan pernah takut jika hari ini kalian merasa tertinggal. Jangan merasa masa depan ditentukan oleh nilai yang kurang baik atau mata kuliah yang harus diulang. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk bertumbuh. Yang terpenting adalah terus belajar, jangan malu bertanya, jangan ragu meminta arahan kepada dosen, dan jangan berhenti mencoba.


Saya adalah salah satu contoh bahwa mahasiswa biasa pun dapat meraih kesempatan yang luar biasa. Bukan karena saya yang paling hebat, tetapi karena saya memilih untuk tidak menyerah ketika keadaan terasa sulit. Saya percaya, selama kita terus berusaha, berdoa, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, Allah akan membuka jalan yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya.


Bagi saya, FIKOM Universitas Muslim Indonesia bukan sekadar tempat memperoleh gelar sarjana. Kampus ini adalah tempat saya belajar mengenal diri sendiri, menemukan passion, dipertemukan dengan dosen-dosen yang luar biasa, dan membangun fondasi yang mengantarkan saya hingga berada di titik kehidupan saya saat ini. Untuk itu, saya akan selalu bangga menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Muslim Indonesia.


Pihak FIKOM UMI menyambut hangat kisah dan pencapaian Karina. Perjalanannya dari mahasiswa yang sempat diliputi keraguan hingga menjadi dosen muda sekaligus kandidat doktor menjadi pengingat bahwa pendampingan dosen dan kegigihan mahasiswa adalah dua hal yang berjalan beriringan dalam membentuk lulusan yang siap bersaing di dunia akademik. Kisah ini sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa FIKOM UMI lainnya bahwa proses belajar yang tidak selalu mulus bukan penghalang untuk meraih pencapaian besar di kemudian hari.


Share